Ku pastikan ini posting terakhirku tentangmu. Biar ku kenalkan kau pada dunia ini. Orang yang sampai detik ini masih mengusai pikiranku dan masih menyisakan luka yang terlalu dalam untuk dilupakan.
Nama yang selalu aku rindukan kehadirannya. Ku kenal dirimu saat kita sama sama di bangku SMA. Teman satu kelas, teman cerita setiap pagi dikoridor kelas. Ya, hanya teman saat itu. Bahkan kau selalu mengagungkan perempuan cantik yang kau kejar saat itu didepanku. Kita berpisah selama satu tahun tanpa kabar tanpa cerita selain pertemuan terakhir kita saat ku antar kau ketempat barumu. Kau perkenalkan aku kepada ibumu, lagi lagi masih sebagai teman. Banyak hal yang ibumu ceritakan, saat itulah ku tahu sedikit lebih banyak tentangmu.
Selang satu tahun, ku kembali mendapat kabar tentang mu, bahwa kita ditempatkan di kampus yang sama dengan fakultas yang sama. Komunikasi terjalin sampai akhirnya kau nyatakan cinta 9 september 3 tahun yang lalu. Ku tahu itu sangat manis. Bahagia bertumpah ruah ditahun pertama kita. Kau selalu meminta untuk merahasiakan hubungan kita. Karna pasalnya kau tidak boleh pacaran tapi tidak ingin melepaskan. Akhirnya kita jalani dengan hubungan yang dikenal orang "backstreet". Tak pernah makan di restoran, tak pernah jalan ke mall, tak pernah nonton di bioskop, dan tak pernah berpegangan tangan didepan orang lain. Dunia hanya untukku dan untukmu saat itu. Kau hanya berani mengajakku ke tempat yang tak jauh dari kampus juga tak dekat dari kampus. Lelah seperti itu, harus pergi dengan ketakutan akan ketahuan orang-orangmu. Bahkan aku dipaksa buta,bisu, dan tuli didepan banyak orang jika itu menyangkut tentang mu. Ku terima, karna sungguh ku sayang.
Bulan ramadhan, ku perkenalkan kau pada orang tua ku. Jelas sekali ayahku bertanya mengenai status hubungan kita. Jelas sekali tersirat ayahku meminta kau tak boleh menyakitiku sampai kapanpun. Dan terlihat jelas pula kau jawab dengan mantap bahwa itu semua bisa dipastikan tak akan terjadi. Ku bahagia, sangat bahagia. Ku tak masalah diam diantara orang lain, tapi didepan orang tuaku, aku mau kita bisa mengungkapkannya. Ku butuh hanya itu.
Bulan ramadhan pula, kau kembali mengajakku menemui ibumu. Kita buka puasa bersama dan bercerita banyak hal seperti dulu. Ku lebih tahu tentang dirimu. Tak mengungkapkan aku siapamu, tapi ku yakin ibumu tahu kenyataannya. Indah. Semakin membuatku jatuh cinta kepadamu.
Banyak hal yang kita lakukan walaupun tak diketahui orang. Sampai kau selingkuh dariku pun pernah terjadi. Kau dekati kakak tingkatmu saat dengan jelas kau punya aku. Tapi semua terlewati dengan baik. Kau berjanji tak akan terulang. Kau berjanji hanya ada aku dihidupmu kedepannya.
Ditinggal ibumu, menjadi masa yang paling sulitmu. Bahkan kronologis bagaimana kejadian itu terjadi masih sangat jelas dipikiranku. Malamnya ku temani kau sampai larut malam untuk terjaga, hingga paginya kau kabari ku bahwa ibu sudah tiada. Ku berhambur, ingin segera memelukmu dan memberimu kekuatan bahwa kau masih ada aku.
Butuh waktu tenaga dan pikiran untuk tetap bisa membuatmu bertahan. Bahkan ku persembahkan seluruh waktu ku untukmu jika kau minta saat itu. Semakin kau terluka sungguh ku makin sayang padamu. Semakin membuatku ingin terus menjagamu, mendapingimu sampai kau bisa bangkit kembali.
Tapi, setelah semua terasa baik baik saja untukmu, kau pilih untuk pergi dariku. Dengan dalih bahwa hubungan kita sudah hampir ketahuan dan kau akan dijodohkan. Lebih parah lagi kau bilang bahwa aku terlalu baik untukmu. Kau tak bisa mengimbangiku. Kau tak bisa membahaiakanku. Tolong bawa semua omong kosong itu. Karna yang ku minta hanya kehadiranmu. Ku butuh alasan nyata kenapa kau memilih pergi seperti itu. Padahal setiap detik hidupku benar benar mencintaimu. Tak pernah melihat mata yang lain, hanya kamu. Karna ku sayang, ku ikhlaskan kau pergi jika memang hubungan kita benar benar membawa kehancuran untukmu. Tak tega aku harus membiarkanmu diusir oleh orang-orangmu hanya karna menjalin cinta denganku. Ku sayang, maka ku biarkan kau pergi. Ku percaya semua alasanmu, karna ku masih meyakinin kau pergi bukan karna kau ingin. Tertatih menata hidup tanpamu. Ku selami setiap rindu di malam malamku. Ku biarkan air mata mengalir setiap mengingatmu. Ku biarkan hati percaya akanmu agar ku dapat bertahan.
Hari ku tak lagi sama saat tanpamu, masih terlalu kelam walau tiga bulan berlalu. Sampai akhirnya ku mendapatkan kabar tentangmu yang sudah memiliki wanita lain. Katanya kau sering terlihat jalan berdua dengannya. Kau sering berkomunikasi dengannya bahkan saat air mataku belum kering karnamu. Kau mulai mendekatinya saat ku masih percaya kau mencintaiku. Kau berkencan dengan nya saat ku masih menyimpan fotomu disakuku. Kau mencintainya saat ku masih menjadikanmu satu satunya. Sangat marah. Bingung. Frustasi.
Kenapa kau sejahat itu padaku? Ku percaya semua alasanmu, ku percaya itu untuk kebaikkanmu. Tapi kenapa kau punya perempuan lain? Tapi kenapa kau terang terangan pacaran dengannya? Kenapa harus temanku sendiri yang kau dekati? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Bahkan pertanyaan itu tak sanggup aku tanyakan langsung padamu. Ku biarkan karna itu sungguh sangat menyakitkan untuk ku ungkapkan.
Sayang, sakit sekali hatiku.
Sudah enam bulan berlalu bagaimana mungkin aku masih memikirkanmu seperti ini.
Tapi ini yang terakhir.
Kau sungguh tak baik untukku.
Tuhan sudah membukakan hatiku untuk melihat kenyataan.
Tuhan mencegah aku disakiti setelah pelaminan nanti.
Aku tak akan berbuat apa apa untuk membalas rasa sakitku, ku percaya Tuhan bersamaku.